Entah sampai kapan aku harus memendam semua ini. Entah sampai kapan aku harus berpura-pura seakan aku tak mengagumimu. Baru saja aku ingin mengatakan hal itu dengan jujur. Tetapi semua kenyataan itu membuatku takut untuk mengakuinya. Aku takut kau menjauh.
Saat itu kita sedang berada dalam satu tempat. Tapi sayangnya kita tidak hanya berdua. Bisa dikatakan seperti hang-out. Ketika kau meminta bantuanku aku berusaha memahami, semuanya aku lakukan demi kamu. Itulah yang membuat kita makin dekat bahkan ku rasa sangat dekat. Itu membuatku semakin kagum dengan mu.
Ku harap kau tau, senyumanmu telah menjadi bagian dari aku. Aku tak bisa jalani semua dengan suka tanpa senyuman itu. Senyuman yang selalu membuatku terpana. Belum lagi ketika mereka mengatakan hal itu, tentang kita. Ku harap semua itu memang benar. Namun ketika kita telat terpisahkan oleh jarak, kau memasang sikap itu lagi, ignorant! Cuek, kata yang paling menyebalkan. Kau tau? Caramu memperlakukanku berbeda dengan caramu memperlalukan orang lain. Seakan kau tahu bagaimana perasaan ini tumbuh mengiringi kedekatan kita. Ku harap bukan itu sebabnya.
Ku kira semua itu bukan salahku, aku sudah memberi penjelasan dan lagi-lagi aku terlihat bodoh di depanmu. Tetapi apakah kau tak tahu bagaimana perasaan seseorang ketika diperlakukan seperti itu? Seakan-akan dia yang selalu bersalah. Namun kau begitu dinginnya kepadaku, seperti aku mengganggumu bahkan sangat mengganggumu.
Aku masih berusaha menahan semua itu sebagai alasan aku tak akan mengagumi mu lagi. Kini aku masih di sini, dengan segenggam harapan untuk bisa bersamamu. Dengan perasaan yang tak ada satupun orang yang mengetahuinya kecuali Allah dengan malaikat-malaikatnya yang mungkin merupakan satu-satunya yang memperhatikanku dari kejauhan.
