Rabu, 29 Agustus 2012

Kamu..

Dari tempat ini bayangan itu seakan-akan masih ada. Ketika canda tawa tercipta, ketika keseriusan terjalin jelas antara kita. Kata orang kita cocok, entahlah bagaimana definisi itu dapat tercipta. Kata itulah yang membuat mukaku semakin memerah ketika memikirkan hal itu. Hal yang biasa bagi mereka, namun tidak bagiku. Orang yang mencintainya..

Aku mencintainya bagai aku mencintai langit dan awan.
Aku mencintai senyumannya
Aku mencintai cara dia berbicara
Aku mencintai cara dia menatapku
Aku mencintai cara dia memperlakukanku
Dan aku mencintai semua yang ada pada dirinya.

Aku belum perduli tentang bagaimana perasaannya padaku. Aku belum perduli jika dia mencintai orang lain, entah itu siapa. Yang jelas aku akan tetap mencintainya.

Ini adalah hari ketika aku tak lagi bisa bersenda gurau dengannya. Entahlah rasanya ada yang kurang. Ini sangat membosankan ketika aku harus menatapnya dari kejauan dan hanya dibalasnya dengan tatapan tak berarti. Gerakanmu itu seakan menghipnotisku untuk selalu memperhatikanmu dengan lekat-lekat namun ketika sikap dinginmu itu terpampang pada wajahmu, aku tidak pernah berani untuk menatapmu.

Aku menyukai ketika kau berada di dekatmu, entah itu untuk apa aku tak pernah memperdulikan itu yang terpenting adalah aku dapat merasakan aroma tubuhmu, aku bisa merasa tenang dan rasanya aku  tak bisa berkata karena aku takut kau mengetahui bahwa pipiku telah memerah karena mu. Tetapi kau tak pernah menganggap semua itu serius, semua kode tak pernah berarti saat aku malu untuk mengakuinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar